Resensi Buku

Nilai kehidupan apapun di dunia ini, selalu memiliki prospek akhir pada nilai-nilai sentral ketuhanan (teologi). Baik dalam ranah sosial, politik, ekonomi serta ranah kehidupan lainnya. Dan nilai-nilai teologi tersebut, senantiasa berimpresi pada hubungan Tuhan, manusia dan alam.

Namun, sebagai makhluk mikro kosmos, hubungan Tuhan-Manusia-Alam itu, bersiklus pada manusia, sebagai pusat orbit kehidupan. Sebab itu, setiap nilai teologi, menjadikan kemakmuran hidup manusia sebagai standar kebenaran nilai tersebut. Baik nilai yang bersumber dari Tuhan (kitab suci) maupun manusia (norma, hukum undang-undang dan hukum duniawi lainnya).

Dalam bukunya yang berjudul Dari Teologi Menuju Aksi ini, Abad Badruzaman juga ingin membedah sisi teologi fungsional, dalam memberikan daya dorong keberpihakan dan ke-pembela-an terhadap hak orang-orang lemah yang tertindas. Dan wujud praksis dari kesadaran ke-bertuhan-an itu adalah, menciptakan keadilan ekonomi, sosial dan politik bagi ummat manusia (terutama orang-orang kecil yang terpinggirkan).

Masih dalam trayek kesadaran teologi, menukil Asghar Ali Engineer dalam Teologi Pembebasan (2000), dijelaskan, “kesadaran kebertuhanan itu, akan menjadi kering dan hilang sisi maknawinya, manakala dalam mendefinisi dan mengejawantahkannya tidak menunjukkan sisi keberpihakan pada ummat manusia”. Banyak ketidakadilan dan penindasan hak orang-orang lemah yang harus dibela dengan kesadaran teologi dimaksud.

Nukilan kajian Asghar Ali Engineer soal teologi di atas, sangat tepat kita jadikan pijakan, sebagaimana ajakan penulis buku ini bahwa, sebatas keyakinan pada nilai-nilai teologi saja tidak cukup, ketika nilai-nilai tersebut tidak dibumisasikan dalam praktek kehidupan sosial. Dan kesadaran demikian, harus mengilhami setiap orang, lebih khusus para pemipin, untuk menjadikan teologi aksi keberpihakan sebagai paradigma utama dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Golongan orang-orang tertindas yang dimaksudkan Badruzaman dalam buku ini adalah mereka-mereka yang lemah, tidak berdaya dan tertindas akibat struktur sosial yang tidak adil. Atau mereka-mereka yang terpinggirkan akibat suatu kebijakan penguasa yang tidak populis. Seperti masyarakat miskin, anak-anak yatim piatu, masyarakat yang tergusur dan mereka-mereka yang terintimidasi akibat stigma politik masa lalu.

Munculnya istilah kolompok lemah ini, karena antonim dari yang kuat. Dalam keadaan yang sebenarnya, dan sesuai prinsip hukum sebab akibat, tidak mungkin ada kaum lemah yang tertindas, jika tidak ada kaum kuat yang menindas. Secara umum, pasti ada kaum lemah dan kuat. Akan tetapi, penindasan itu bukanlah sesuatu yang wajar. Karena manusia diciptakan untuk membumikan keadilan. Dan membebaskan manusia lainnya dari keterbelengguan dan berbagai kezaliman.

Dalam pendekatan apapun, penindasan adalah hal yang tidak dibenarkan. Karena mengakibatkan hilangnya takaran keseimbangan sosial. Kaum lemah yang tertindas akan menjadi terpinggirkan dan menderita, sementara kaum kuat yang menindas akan semakin mapan dan menikmati kesejahteraan hidup secara tidak adil.

Banyak  fenomena yang telah kita saksikan, bahwa dari ketertindasan tersebut, ada rakyat di negeri ini yang belum 100% menikmati keadilan dan kemakmuran. Akibat hidupnya yang terkekang dan tertindas oleh struktur sosial yang tak berpihak. Saat ini, pemimpin dengan perpaduan nalar teologi dan aksi sosial yang membebaskan, sangat diharapkan. Agar aspirasi dan histeris orang-orang kecil itu, dapat diperjuangkan, untuk mendapatkan keadilan yang sepatutnya.

Dalam buku setebal  303 halaman ini, Badruzaman menjelaskan bahwa, yang termasuk golongan tertindas juga adalah masyarakat dengan status ekonomi di bawah rata-rata. Mereka adalah orang-orang miskin yang tidak diberdayakan. Mereka adalah petani yang tidak dipedulikan, buruh yang dihargai dengan upah rendah, dan tidak ada jaminan sosial hari tua, pembantu rumah tangga yang dilecehkan atau dianiaya, serta anak-anak jalanan yang kesehariannya dihardik oleh mereka yang bermobil mewah, bersepatu licin, berdasi, “yang setiap harinya selalu berceloteh tentang rakyat”. Tapi seolah buta dan tuli dengan kondisi sosial yang setiap saat memergokinya.

Melalui buku berjudul Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan, penulis hendak mengajak para pembacanya untuk menjadi jiwa-jiwa pembebas penindasan, memperjuangkan nasib orang-orang yang termarjinalkan.

Dengan tulisannya yang renyah tapi sedikit menggugat ini, nampaknya penulis juga ingin meng-azani nurani pembaca, bahkan pemimpin negeri ini, untuk sensitif dan tanggap terhadap nasib orang-orang kecil yang kian hari kian terenggut hak-haknya sebagai manusia. []

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.